Solo, JNN.co.id – Persatuan Warga Theosofi Indonesia (Perwathin) punya sanggar baru di Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Namanya Sanggar Cetho.
Dengan demikian kini Perwathin punya 16 sanggar. Yakni Sanggar Penerangan Surabaya, Sanggar Penataran Blitar, Sanggar Wishnu Malang, Sanggar Shanti Malang, Sanggar Sala Surakarta, Sanggar Wiku Semarang, Sanggar Dharma Yogyakarta, Sanggar Adiwerna Tegal, Sanggar Mangir Bantul, Sanggar Dewaruci Kudus, Sanggar Sophia Bandung, Sanggar Bogor di Bogor, Sanggar Saraswati Jakarta, Sanggar Blavatsky Jakarta, Sanggar Luxor Jakarta dan yang terbaru adalah Sanggar Cetho Karanganyar.

Keberadaan warga Theosofi di suatu kota ditandai dengan adanya sanggar, tempat berkumpul bersama secara periodik. Itu sebabnya dalam Kongres Theosofi pemilik suara adalah pengurus sanggar.
Dalam Kongres ke-62 di Solo, dari 15 sanggar, 9 pengurus hadir langsung, sedangkan yang mengirimkan wakil dengan surat mandat pengurus sanggar ada 4 orang. Total ada 13 sanggar yang hadir.
Ketua Perwathin AHU 2023, dr. Dany Syumanjaya menjelaskan, berdasarkan jumlah kehadiran pengurus sanggar, Kongres ke-62 diikuti 86 persen pemilik hak suara.
“Dengan demikian semua keputusan yang diambil dalam kongres ini sah. Karena peserta kongres memenuhi kourum,” katanya.
Meskipun keberadaan warga Theosofi di suatu kota ditandai dengan adanya sanggar, banyak anggota Theosofi yang tinggal di kota yang tidak ada sanggarnya.
“Warga Theosofi itu ada di mana-mana, hampir di seluruh kota besar vdi Indonesia ada. Hanya saja Pengurus Pusat Theosofi Indonesia mendasarkan keanggotaan dari adanya atau jumlah sanggar. Ada juga organisasi Theosofi tingkat internasional di beberapa negara di dunia,” tutur Hernowo Adiwarna, warga Theosofi asal Bogor.
Ia jelaskan, sanggar baru, yakni Sanggar Cetho Karanganyar lahir saat berlangsung Kongres ke-62 Perwathin, 7-8 November, di Hotel Cakra, Pasar Kliwon, Kauman, Solo.
Perwathin yang menggelar kongres di Solo adalah yang diakui pemerintah sesuai SK Menkum RI dengan nomor AHU-0001138. AH. 01.08 Tahun 2023 atau yang lebih sering disebut sebagai Perwathin AHU 2023.
Kongres ke-62 Perwathin di Solo antara lain menyepakati perubahan Anggaran Dasar Perwathin, perubahan status kepengurusan beberapa sanggar di tahun 2025, pelantikan pengurus Sanggar Cetho Karanganyar dan pemberian mandat kepada pengurus Perwathin AHU 2023 untuk mengatasi masalah hukum di pengadilan mana pun di Indonesia.
Kongres ke-62 Perwathin ditutup dengan khidmat hari Sabtu (08/11/2025) pukul 22.30.
Teosofi didirikan oleh Helena Petrovna Blavatsky bersama Henry Steel Olcott pada tahun 1875 di New York, Amerika Serikat.
Nama organisasi awalnya Theosopichal Society atau Perkumpulan Theosofi.
Tujuan berdirinya Perkumpulan Theosofi adalah mempelajari ajaran spiritual dari berbagai agama dan budaya serta memahami hukum-hukum alam semesta.
“Jadi tidak usah kaget kalau anggota Theosofi berasal dari penganut agama apapun. Di Theosofi kita tidak bicara agama, melainkan bicara soal manusia dan kemanusiaan,” tambah Hernowo.
Pendiri Theosofi Madame Blavatsky dikenal sebagai seorang spiritualis dan penganut okultisme. Sedangkan Olcott yang seorang pengacara dan jurnalis membantu Blavatsky menyebarkan ajaran-ajarannya ke seluruh dunia. Theosofi kemudian berkembang di Amerika Serikat, Eropa serta Asia.
Blavatsky sendiri punya perhatian khusus terhadap aktivitas spiritual dan budaya di Indonesia. Itu sebabnya ia sempat datang langsung ke Hindia Belanda yang kemudian menjadi Indonesia sebanyak dua kali.
Itu pula sebabnya banyak berdiri Sanggar Theosofi di Indonesia, khususnya di Pulau Jawa.
Sanggar Penerangan Surabaya misalnya, didirikan pada tahun 1903 di Jalan Serayu dan hingga kini gedungnya masih dalam kondisi baik.
Menurut Rudyanto Philips, pengelola Sanggar Penerangan Surabaya, saat Bung Karno masih berguru pada Tjokroaminoto di Jalan Peneleh Surabaya, sering datang ke Sanggar Penerangan.
“Karena ayah Bung Karno (R. Soekemi Sosrodihardjo) adalah Ketua Theosofi di Blitar,” demikian Rudyanto.
Beberapa tokoh penting Theosofi di dunia antara lain Annie Besant, Presiden Theosophical Society setelah meninggalnya Blavatsky dan Olcott.
Nama lain yang dikenal sebagai pegiat Theosofi internasional adalah Charles Webster Keadbeater dan Jiddu Krishnamurti.
Webster bahkan dikenal di dunia gara-gara tulisannya tentang okultisme dan spiritualitas, sementara Jiddu Krishnamurti dikenal sebagai filsuf spiritual yang memiliki pengaruh besar dalam perkembangan spiritualitas modern. (Yami Wahyono)









