Siswa Blitar Plesetkan Slogan “Blitar Keren” Jadi “Blitar Kere” di Tas Sekolah, Sorotan Tajam Terhadap Pemkot

0
331

Blitar, JNN.co.id – Sebuah pemandangan yang menarik perhatian dan memicu diskusi muncul di salah satu persimpangan jalan tersibuk di Kota Blitar. Di tengah antrean kendaraan di lampu merah perempatan Jalan Tanjung-Pakunden, seorang pelajar Sekolah Menengah Atas (SMA) atau sederajat kedapatan membawa tas ransel pemberian Pemerintah Kota (Pemkot) Blitar dengan tulisan yang telah dimodifikasi secara mencolok.

Ransel berwarna dominan hitam dengan aksen merah tersebut, yang merupakan bagian dari program bantuan perlengkapan sekolah dari Pemkot Blitar, awalnya bertuliskan slogan kebanggaan kota, “Blitar Keren”. Namun, pelajar yang terlihat mengenakan seragam putih biru dan membonceng sepeda motor ini, secara sengaja menghapus huruf ‘N’ di bagian akhir kata ‘Keren’, sehingga mengubah maknanya menjadi “Blitar Kere”.
Kata “Kere” dalam bahasa Jawa dan bahasa Indonesia informal memiliki arti miskin, melarat, atau tidak punya uang. Perubahan satu huruf ini sontak membalikkan arti positif dari slogan Pemkot Blitar, yang dimaksudkan untuk membangkitkan rasa bangga dan citra kota, menjadi sebuah kritik sosial yang tajam.

Refleksi Persepsi Negatif?
Aksi plesteran ini langsung menjadi sorotan masyarakat yang melihatnya di jalanan dan di media sosial. Banyak pihak mempertanyakan, apakah tindakan pelajar ini merupakan cerminan dari persepsi atau kondisi riil yang dirasakan oleh sebagian warganya, khususnya para pelajar, terhadap pemerintahan kota.

“Tulisan itu membuat saya terkejut, maknanya jadi sangat berbeda. Apakah sudah seburuk itu pandangan pelajar terhadap kondisi kota atau program pemerintah, sampai-sampai tulisan di tas sekolahnya sendiri diplesetkan dengan makna yang negatif seperti itu?” ujar salah seorang warga yang melihat kejadian tersebut.

Pemberian tas sekolah dan perlengkapan lain kepada peserta didik di Kota Blitar merupakan salah satu program rutin Pemkot di sektor pendidikan. Modifikasi tulisan pada tas ini disinyalir sebagai bentuk ekspresi, kritik, atau bahkan lelucon oleh pelajar tersebut.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari Dinas Pendidikan Kota Blitar maupun pihak Pemkot mengenai fenomena ini. Namun, kejadian ini jelas menjadi bahan evaluasi serius, menuntut Pemkot Blitar untuk tidak hanya memperhatikan kualitas bantuan fisik, tetapi juga mendengarkan suara dan memahami aspirasi generasi muda Blitar. Aksi sederhana ini menjadi indikator penting bahwa semangat “Blitar Keren” perlu didukung oleh kebijakan dan kondisi yang benar-benar dirasakan manfaatnya oleh seluruh lapisan masyarakat.(Vol)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here