Mas Fauzi As yang saya hormati,
Sumenep, JNN.co.id – Izinkan saya menulis surat ini, bukan karena saya ingin menjadi pahlawan klarifikasi, apalagi juru bicara kebenaran. Saya hanya ingin menaruh suara—pelan, jujur, tapi semoga cukup terdengar. Kalau pun tidak didengar, setidaknya bisa dibaca. Kalau pun tidak dibaca, ya sudahlah… toh sejarah kadang lebih sabar daripada kita.
Tentang pertanyaan Mas Fauz soal siapa yang meminta Rp300 juta ke Korkab BSPS, maaf saya tidak punya jawabannya. Tapi kalau Mas ingin tahu siapa yang pernah menawarkan Rp100 ribu per titik, nah… yang ini saya mungkin tahu. Bahkan kabarnya sudah dicicipi juga di tiga kecamatan kepulauan. Rasanya manis atau getir? Wallahu a’lam. Yang jelas, yang menerima katanya masih “teman-teman” sendiri. Tapi saya tidak mau su’udzon, karena saya lebih suka tidak tahu, daripada tahu terlalu banyak lalu dianggap sok tahu.
Tentang kegiatan P3GAI 2025, iya, memang pernah ada tawaran dua paket pada saya. Saya pikir, kalau benar-benar datang, ya saya terima saja. Toh, menerima kegiatan yang legal dan bermanfaat masih lebih aman daripada menerima iming-iming yang berisiko. Tapi ya begitulah Mas, ternyata nihil. Seperti janji-janji kampanye yang lewat begitu saja, tinggal bekas senyumnya.
Oh iya, mungkin Mas Fauzi lupa… soal permintaan Rp200 juta, juga pernah mampir di obrolan ruangan ber-AC, saat kita masih bisa bercanda tanpa saling curiga. Waktu itu saya bilang, “terserah teman-teman,” karena saya pikir semua sudah cukup dewasa. Tapi saya tak pernah ikut lagi mengurus atau menagihnya. Entah bagaimana kelanjutannya, yang saya dengar—lagi-lagi hanya katanya—angka itu menyusut jadi Rp70 juta dan masuk ke kawan sendiri. Tapi saya tak berani menyebut nama, karena saya belum tamat ilmu menyebut tanpa bukti.
Mas Fauzi yang bijak, saya tidak marah. Sungguh. Saya bahkan masih bisa senyum membaca semua ini, karena saya percaya bahwa rejeki tak pernah salah alamat. Kalau bukan hari ini, mungkin besok. Kalau bukan dari sini, mungkin dari arah yang tak disangka. Maka, saya memilih diam bukan karena takut, tapi karena percaya bahwa waktu punya cara sendiri untuk membuka yang tersembunyi.
Saya juga mohon maaf, jika dulu saya pernah minta saran Mas tentang tawaran-tawaran itu. Tapi karena Mas lebih memilih diam seribu makna, ya saya anggap saja itu tanda tidak setuju. Saya pun berhenti berharap dan kembali ke rutinitas: scroll TikTok, ngopi, dan sesekali posting quotes bijak.
Dan ya, saya memang tidak pernah komunikasi dengan Korkab. Tak kenal, tak simpan nomor, dan tak pernah japri. Ketika akhirnya bertemu di kafe, saya tidak sendiri. Saya datang dengan teman-teman. Bukan untuk drama, tapi untuk memastikan tak ada dusta di antara kami.
Demikian surat terbuka ini saya tulis, dengan niat baik, hati lapang, dan sedikit tawa getir di sela kalimat. Saya hanya ingin menjawab pertanyaan Mas, bukan memulai perang kata. Kalau pun surat ini dianggap angin lalu, setidaknya ia bisa jadi catatan kecil bahwa pernah ada suara lirih yang mencoba bicara.
Salam hormat,
Ainur Rahman (Tiktoker yang lebih senang ngedit konten daripada ngurus pungutan)







