Uzbekistan Letakkan Batu Pertama PLTN, Indonesia Segera Menyusul

0
57

Jakarta, JNN.co.id – Uzbekistan resmi memulai pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) pertamanya pada 4 Juni 2026. Peresmian proyek tersebut dilakukan oleh Presiden Uzbekistan Shavkat Mirziyoyev dalam sebuah seremoni yang menandai dimulainya pembangunan salah satu proyek energi terbesar dalam sejarah negara Asia Tengah tersebut. Senin (15/6/2026)

Bagi Uzbekistan, proyek ini bukan sekadar pembangunan infrastruktur ketenagalistrikan. Pemerintah setempat memandangnya sebagai investasi strategis untuk mendukung pertumbuhan ekonomi, meningkatkan ketahanan energi, dan memperkuat daya saing industri nasional dalam jangka panjang.

Mirziyoyev menyebut momen tersebut sebagai hari bersejarah bagi negaranya. Menurutnya, keputusan membangun PLTN merupakan hasil pembahasan dan kajian yang telah berlangsung selama bertahun-tahun.

“Kami telah bekerja menuju tahap ini dalam waktu yang lama, mendiskusikannya secara mendalam, dan akhirnya sampai pada keputusan yang kami yakini sebagai pilihan yang tepat,” ujarnya.

PLTN pertama Uzbekistan akan mengusung konsep hibrida yang menggabungkan reaktor berkapasitas besar dan reaktor modular kecil (Small Modular Reactor/SMR) dalam satu kawasan.

“Untuk pertama kalinya dalam sejarah, sebuah stasiun hibrida dibangun dengan dua unit kecil dan dua unit besar,” kata Mirziyoyev.

*Nuklir sebagai Mesin Pertumbuhan Ekonomi*

Pembangunan PLTN di Uzbekistan dipandang sebagai bagian dari strategi transformasi ekonomi nasional. Selain menyediakan pasokan listrik yang stabil dan rendah karbon, energi nuklir juga diharapkan mampu mengurangi ketergantungan pada pembangkit berbahan bakar fosil.

Direktur Afrika dan Timur Tengah Program Nuclear Business Platform (NBP), Ibrahim Ababou, menilai dampak ekonomi dari proyek tersebut berpotensi sangat besar.

“Nuklir mengubah seluruh persamaan. Sebanyak 17 miliar kWh per tahun dari satu lokasi. Lima belas persen konsumsi nasional dapat dipenuhi dari satu fasilitas. Dan yang paling penting, tercipta surplus listrik domestik yang memungkinkan gas alam dialihkan untuk ekspor dengan nilai tambah yang lebih tinggi,” ujarnya.

Menurut Ababou, keberhasilan proyek ini dapat menjadi contoh bagi negara-negara lain di kawasan Asia Tengah yang menghadapi tantangan serupa dalam memenuhi kebutuhan energi dan mendorong industrialisasi.

“Jika model hibrida Jizzakh berhasil, maka Kirgizstan, Tajikistan, dan Azerbaijan akan mengamatinya dengan sangat serius. Dekade nuklir Asia Tengah baru saja dimulai,” katanya.

*Indonesia Masih dalam Perencanaan*

Berbanding dengan Uzbekistan, langkah Indonesia menuju pembangunan PLTN masih dalam pertimbangan dan perencanaan. Tahun lalu, pemerintah memasukkan nuklir ke dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN 2025–2034. Dalam dokumen tersebut, PLTN direncanakan mulai beroperasi pada awal dekade 2032 sebagai bagian dari upaya diversifikasi sumber energi nasional dan pencapaian target penurunan emisi karbon.

Tahun ini, pemerintah telah mengadakan berbagai kesepakatan dengan negara penyedia teknologi PLTN, salah satunya adalah Amerika Serikat. Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE), Eniya Listiani Dewi, mengungkapkan bahwa proyek strategis ini direncanakan memiliki kapasitas awal sebesar 500 Megawatt (MW).

“Target tercepat kita adalah on-grid dan commissioning pada 2032. Dalam perencanaan nuklir saat ini, tahap awal akan dikembangkan sebesar 500 MW,” jelas Eniya dalam diskusi di kanal YouTube resmi Kementerian ESDM, Minggu (15/2).

Selain itu, pemerintah juga terus membahas pembentukan Nuclear Energy Programme Implementation Organization (NEPIO), sebuah organisasi yang direkomendasikan oleh IAEA untuk mengoordinasikan persiapan pembangunan program nuklir nasional. (Redaksi KBO Babel)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here