“Jenderal yang Tak Menunggu Telepon”

0
58

Oleh Fauzi As

Sumenep, JNN.co.id – Kemarin saya duduk satu gazebo dengan Brigjen TNI Kohir. Bukan di ruang rapat mewah.
Bukan di hotel berbintang.

Tetapi di sebuah gazebo sederhana di Desa Matanair, Kabupaten Sumenep. Di tengah kawasan integrated farming, di antara tanah, rumput, ternak, dan mimpi-mimpi kecil masyarakat desa yang sering tak terdengar negara.

Di tempat sederhana itu, saya melihat sesuatu yang mulai langka pada banyak pejabat hari ini: seorang pemimpin yang bekerja dengan insting dan hati.

Beliau berbicara banyak hal. Tentang tugas. Tentang rakyat. Tentang bagaimana seorang pemimpin tidak boleh bekerja hanya karena diperintah.

Kalimatnya sederhana, tetapi menampar:
“Jangan sampai ditanya oleh pimpinan.”
Lalu ia melanjutkan:
“Kita harus memahami keinginan pimpinan apa lagi searah dengan kebutuhan rakyat.”

Kalimat itu terdengar biasa. Tetapi di negeri yang terlalu banyak pejabat bekerja setelah ditegur, ucapan itu terasa seperti tamparan keras.

Hari ini kita hidup di zaman ketika banyak orang baru bergerak setelah ada surat. Setelah ada tekanan. Setelah viral. Setelah dimarahi atasan. Bahkan ada yang bekerja hanya demi laporan dan dokumentasi.

Tetapi Brigjen Kohir tampaknya berbeda.
Ia terlihat memahami bahwa tugas bukan sekadar menjalankan perintah, melainkan membaca keadaan sebelum keadaan berubah menjadi masalah.

Mungkin itu sebabnya karier militernya terus naik hingga resmi menyandang pangkat Brigadir Jenderal dan dipercaya menjadi Danrem 084/Bhaskara Jaya Surabaya menggantikan Brigjen TNI Danny Alkadrie.

Namun bagi saya, pangkat bukan bagian paling menarik dari dirinya.

Yang menarik justru cara berpikirnya.
Di tengah kultur birokrasi yang sering lambat, Brigjen Kohir tampak memiliki pola kerja teritorial yang hidup. Ia tidak memandang rakyat sebagai objek seremoni, tetapi sebagai denyut utama pengabdian.

Selama memimpin Korem 083/Baladhika Jaya Malang, ia dikenal humanis, komunikatif, dan aktif membangun pendekatan persuasif dengan masyarakat. Ia mendorong prajurit hadir di tengah persoalan sosial, bukan sekadar menjaga barak dan rutinitas administratif.

Dan mungkin di situlah letak kekuatannya.
Ia memahami bahwa keamanan bukan hanya soal senjata, tetapi juga soal perut rakyat, ketahanan sosial, pertanian, ekonomi desa, hingga rasa percaya masyarakat kepada negara.

Di Matanair waktu itu, saya melihat matanya lebih banyak memandang masa depan desa daripada sibuk membicarakan dirinya sendiri.
Ia berbicara tentang inisiatif. Tentang membaca arah sebelum diperintah. Tentang bagaimana seorang prajurit seharusnya tidak menjadi robot birokrasi.

Dan terus terang, ucapan itu terasa semakin mahal di negeri yang terlalu banyak dipenuhi mental “asal bapak senang”.
Karena faktanya, banyak pemimpin hari ini lebih takut kepada atasan daripada takut mengecewakan rakyat.

Banyak yang sibuk mencari aman.
Sedikit yang berani mengambil langkah.
Brigjen Kohir tampaknya memilih jalan kedua.

Mungkin itulah sebabnya ia dipercaya menduduki wilayah strategis seperti Korem 084/Bhaskara Jaya Surabaya. Sebab Surabaya bukan wilayah biasa. Ia adalah pusat ekonomi, pemerintahan, dan denyut penting Jawa Timur.

Jabatan itu membutuhkan bukan hanya ketegasan militer, tetapi juga kecerdasan membaca situasi sosial masyarakat.

Dan dari percakapan sederhana di gazebo Matanair itu, saya menangkap satu hal:
Brigjen Kohir bukan tipe pemimpin yang menunggu masalah datang ke meja. Ia lebih memilih mendatangi realitas sebelum realitas berubah menjadi ancaman.

Menariknya lagi, pada 17 Mei kemarin beliau genap berusia 49 tahun.
Usia yang sebenarnya masih sangat produktif bagi seorang perwira tinggi.

Tetapi jika umur dihitung dari ritme kerja, tekanan tugas, dan sedikitnya waktu istirahat, mungkin “usia pengabdiannya” sudah jauh lebih tua dari angka di kartu identitas.

Sebab banyak jenderal tidur delapan jam.
Tetapi ada juga jenderal yang tidur sambil tetap memikirkan wilayahnya.

Dan Brigjen Kohir tampaknya masuk golongan kedua. Beliau sendiri pernah bercerita bagaimana pentingnya memahami karakter pimpinan. Terutama ketika berbicara tentang Pangdam V/Brawijaya Mayjen TNI Rudy Saladin.
“Beliau pekerja keras dan disiplin,”
katanya menjelaskan sosok pimpinannya.

Dari sana saya memahami satu hal: disiplin ternyata menular. Etos kerja juga menular.
Ketika pimpinan di atas memiliki ritme kerja tinggi, maka bawahannya dipaksa ikut bergerak cepat.

Tidak ada ruang terlalu lama untuk bermalas-malasan, menunda pekerjaan, atau hanya sibuk membuat laporan pencitraan. Dan mungkin itu sebabnya Brigjen Kohir terlihat mampu beradaptasi dengan berbagai karakter kepemimpinan tanpa kehilangan jati dirinya sebagai prajurit lapangan.

Ia tahu kapan harus tegas.
Ia tahu kapan harus mendengar.
Dan ia tahu bahwa rakyat tidak selalu membutuhkan pidato panjang. Kadang rakyat hanya butuh pemimpin yang benar-benar hadir.
Di tengah banyak pejabat yang sibuk membangun citra di media sosial, masih ada orang-orang yang diam-diam membangun kerja nyata di lapangan.

Mungkin Brigjen Kohir salah satunya.
Maka melalui tulisan sederhana ini, saya pribadi mengucapkan:

Selamat ulang tahun ke-49 Brigjen TNI Kohir.
Semoga tetap sehat, kuat, rendah hati, dan terus menjadi pemimpin yang bekerja bukan karena takut ditegur atasan, tetapi karena takut mengecewakan rakyat.

Karena pada akhirnya, rakyat tidak terlalu peduli berapa bintang di pundak seorang pemimpin.
Rakyat hanya ingin tahu satu hal sederhana:
“Apakah saat kami susah, pemimpin itu hadir… atau hanya muncul saat kamera dinyalakan?”.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here