Plt. Bupati Ahmad Baharudin: Jamasan Tombak Pusaka Kanjeng Kiai Upas Perkuat Jati Diri dan Warisan Budaya Tulungagung

0
43

Tulungagung, JNN.co.id – Pemerintah Kabupaten Tulungagung kembali meneguhkan komitmennya dalam melestarikan warisan budaya leluhur melalui penyelenggaraan Upacara Tradisi Jamasan Tombak Pusaka Kanjeng Kiai Upas yang digelar di Griya Dalem Kanjengan Kepatihan, Jumat (3/7/2026).

Tradisi yang rutin dilaksanakan setiap bulan Suro oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Tulungagung ini bukan sekadar prosesi membersihkan pusaka. Lebih dari itu, jamasan menjadi simbol penghormatan terhadap sejarah, pelestarian nilai-nilai budaya adiluhung, sekaligus momentum memperkuat jati diri masyarakat Tulungagung di tengah pesatnya arus modernisasi.

Pelaksana Tugas (Plt.) Bupati Tulungagung Ahmad Baharudin, S.M., M.M., hadir langsung mengikuti seluruh rangkaian prosesi sebagai bentuk dukungan nyata Pemerintah Kabupaten Tulungagung dalam menjaga kelestarian budaya daerah yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut jajaran Forkopimda Tulungagung, Sekretaris Daerah Kabupaten Tulungagung, kepala perangkat daerah, para camat, lurah beserta perangkat Kelurahan Kepatihan, sesepuh Majelis Luhur Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa Indonesia (MLKI), pimpinan dan anggota Perkumpulan PERMADANI Cabang Tulungagung, keluarga besar Pringgo Koesoeman, Komunitas Wadya Wimbasara, tokoh budaya, serta berbagai elemen masyarakat.

Kehadiran berbagai unsur tersebut menunjukkan bahwa Tradisi Jamasan Tombak Pusaka Kanjeng Kiai Upas telah menjadi milik bersama masyarakat Tulungagung. Tradisi ini menjadi ruang pemersatu antara pemerintah, tokoh adat, budayawan, komunitas budaya, dan masyarakat dalam menjaga warisan leluhur sebagai identitas daerah.

Dalam sambutannya, Ahmad Baharudin menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya prosesi jamasan yang berlangsung khidmat, tertib, dan penuh makna. Ia juga mengapresiasi seluruh panitia serta semua pihak yang telah berperan aktif menyukseskan kegiatan tersebut.

“Atas nama Pemerintah Kabupaten Tulungagung, saya menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh panitia penyelenggara dan semua pihak yang telah memberikan dukungan. Semoga Allah Yang Mahakuasa membalas segala pengabdian dan kerja keras dengan pahala serta keberkahan yang berlipat ganda,” ujarnya.

Menurutnya, Upacara Tradisi Jamasan Tombak Pusaka Kanjeng Kiai Upas merupakan warisan budaya adiluhung yang harus terus dijaga keberlangsungannya. Tradisi tersebut bukan hanya bentuk penghormatan terhadap peninggalan sejarah, tetapi juga menjadi media untuk menanamkan nilai-nilai luhur kepada generasi muda.

Ia menegaskan bahwa pelestarian budaya tidak boleh berhenti sebagai agenda seremonial tahunan. Tradisi seperti Jamasan Tombak Kanjeng Kiai Upas harus menjadi sarana edukasi agar generasi penerus memahami sejarah daerah, mengenal kearifan lokal, serta memiliki kebanggaan terhadap identitas budaya Tulungagung.

“Tradisi ini merupakan wujud nyata komitmen kita dalam melestarikan budaya adiluhung. Di dalamnya terkandung nilai kebersamaan, penghormatan terhadap sejarah, serta semangat menjaga warisan leluhur agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman,” tegasnya.

Lebih lanjut, Ahmad Baharudin mengatakan bahwa pelestarian budaya merupakan investasi jangka panjang dalam membangun karakter masyarakat. Menurutnya, budaya bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan sumber nilai yang mampu memperkuat persatuan, memperkokoh identitas daerah, serta menjadi pondasi dalam membangun masyarakat yang harmonis.

Ia berharap semangat yang terkandung dalam Tradisi Jamasan Tombak Pusaka Kanjeng Kiai Upas terus diwariskan kepada generasi muda sehingga pelestarian budaya tidak hanya bersifat simbolis, tetapi tumbuh menjadi kesadaran bersama untuk menjaga sejarah, mempererat persatuan, dan mencintai warisan leluhur.

Dalam sejarah Tulungagung, Tombak Pusaka Kanjeng Kiai Upas memiliki kedudukan yang sangat istimewa. Pusaka tersebut dipercaya sebagai simbol kewibawaan pemerintahan pada masa lampau sekaligus menjadi bagian penting dari identitas Kabupaten Tulungagung. Berbagai kisah yang berkembang di tengah masyarakat juga menjadikan Tombak Kiai Upas sebagai salah satu warisan budaya yang sarat nilai historis dan spiritual.

Prosesi jamasan sendiri mengandung makna filosofis yang mendalam. Selain sebagai bentuk perawatan terhadap pusaka peninggalan leluhur, ritual ini melambangkan penyucian diri, penghormatan terhadap sejarah, serta ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT atas segala nikmat yang telah diberikan. Melalui doa-doa yang dipanjatkan, masyarakat berharap Kabupaten Tulungagung senantiasa memperoleh perlindungan, keselamatan, kedamaian, kesejahteraan, dan kemakmuran.

Melalui penyelenggaraan Upacara Tradisi Jamasan Tombak Pusaka Kanjeng Kiai Upas, Pemerintah Kabupaten Tulungagung kembali menegaskan bahwa pelestarian budaya merupakan bagian penting dari pembangunan daerah. Di tengah derasnya arus modernisasi, tradisi yang terus dijaga ini menjadi bukti bahwa kemajuan dapat berjalan beriringan dengan pelestarian budaya, sehingga Tulungagung tetap tumbuh sebagai daerah yang maju, berkarakter, harmonis, dan berakar kuat pada jati diri serta kearifan lokal.(Ari)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here