Menulis Buku Sekda Edy

0
178

Sumenep, JNN.co.id – BISA jadi anda bertanya. Ada misi apa. Kok tiba-tiba beredar foto tumpukan Buku Sekda Sumenep Edy Rasiyadi. Beberapa jam menjelang purna tugas.

Bisa jadi anda juga menerka. Atau memprediksi. Ada misi politik. Atau misi sembunyi lainnya.

Pertanyaan itu hal wajar. Yang pasti; sebagai penulis Buku Jalan Senyap Pengabdian Edy Rasiyadi bukan buku pesanan. Bahkan, tiga bulan sebelum buku itu terbit. Ketika saya menyampaikan keinginan menerbitkan bukunya. Secara tegas Pak Edy menolak. Hanya perawakan kalem saja. Bahasa penolakan itu hanya disampaikan berulang ulang. “Jangan Pak. Jangan Pak. Kalau mau nulis buku yang pas prestasi dan kinerjanya Pak Bupati,” ucapnya suatu waktu.

Saya mundur. Tak melanjutkan soal rencana penulisan buku Pak Edy. Saya paham.
Saya sambung materi lain. Pertemuan itu kembali mencair. Tak tegang ketika mendengar rencana buku.

Setelah pulang. Saya berubah pikiran. Saya berpikir perlu menerbitkan buku Pak Edy. Tak perlu wawancara. Saya akan gunakan hasil pengamatan langsung sebagai jurnalis.

Ya…Buku Pak Edy sebagai produk jurnalis. Hasil pengamatan langsung. Materinya sejak tahun 2000. Ketika awal saya bertemu Pak Edy waktu di Dinas PU Bina Marga sampai menjabat Sekda jelang purna.

Ditulis dengan gaya bertutur. Ringan. Biar mudah dicerna pembaca. Hasil amatan itu banyak di luar kantor pemda. Seperti judul tulisan: Menolak Gelar Haji dan Menolak Politik.

Ada lagi, tulisan ruang kerja Edy menjadi tempat berjumpa para aktivis dan wartawan.
Itu hasil amatan langsung yang bukan hanya sekali disaksikan. Termasuk saat menjabat Sekda Sumenep. Ada ruang khusus yang bisa nongkrong para aktivis atau wartawan juga politisi DPRD untuk diskusi sambil ngopi dan rokok.

Materi lainnya soal Cafe Pagi. Seperti kebiasaan Pak Edy. Usai apel pagi. Dirinya menyediakan waktu kepada siapa pun yang hendak bertemu bisa berjumpa di Cafe pujasera di belakang kantor Pemda. Selama kurang 1 jam. Pak Edy secara terbuka menerima tamu sambil ngopi. Di Cafe itu juga banyak para ASN tanpa eselon dan penjabat eselon berkumpul. Ngobrol secara guyub sambil menikmati kopi dan gorengan.

Di luar kepribadian dan kepemimpinannya Pak Edy. Saya juga mengulas singkat biografi Pak Edy. Yang lebih penting bagaimana saya memotret peran Pak Edy selama menjabat Sekda Sumenep.

Seperti anda ngerti. Jabatan Sekda itu motor penggerak. Harus bisa inklusif menghadapi dinamika internal dan eksternal. Dan yang tak banyak ngerti publik: bagaimana peran Sekda bisa menyelamatkan APBD Sumenep hampir Rp 100 miliar. Gegara peran Sekda Edy, tak sedikit para pejabat eselon yang muring muring. Sempat terucap nada kekecewaannya.

Padahal apa yang dilakukan Sekda hanya menjalankan aturan di atasnya. Dan Kabupaten/Kota lain sudah menerapkan setahun sebelumnya. Lalu Kabupaten Sumenep menerapkan. Tapi kabur/Kota lain juga ada yang belum menerapkan.

Dalam benak Sekda Edy. APBD Sumenep perlu diselamatkan. Dia ikhlas memikirkan nasib ASN non eselon yang tak menikmati kesejahteraan. Juga bagaimana peran Sekda yang lain.

Jika ada yang menafsiri atau mengaitkan dengan sosok Calon Sekda penggantian Edy. Itu hanya interpretasi saja.

Yang pasti, buku Edy Rasiyadi hanya berupa catatan seorang jurnalis yang banyak memotret sisi pribadi dalam mengabdi sebagai ASN Sumenep. Karenanya: titik tekan materi jalan sunyi yang dilalui Edy selama menjadi ASN adalah pantulan dari Keperibadian Seorang Edy Rasiyadi.

Sampai di sini soal alasan penulisan buku Edy. Soal testimoni yang ada, hanya bagian kecil dari mereka yang banyak mau memberi testimoni.

Edy jauh kata sosok sempurna. Dia banyak yang suka juga banyak yang tak suka. Saya memilih yang baik baik saja. Daripada hati diselimuti tak baik baik.(Salam/H)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here