Seleksi KI Sumenep: Dua Wajah Dalam Topeng Sok Moralis

0
209

Oleh: Farid Gaki dan Imam Syafii

Sumenep, JNN.co.id – Para panelis Seleksi Komisi Informasi (KI) Sumenep tampil gagah di layar, melempar kata-kata luhur: etik, moral, kemanusiaan, integritas… Buset.

Seolah-olah mereka sedang menulis ulang kitab suci demokrasi. Tapi kita bukan bangsa yang baru lahir kemarin sore. Pertanyaan besarnya bukan siapa paling vokal bicara etika, tapi siapa calon yang diam-diam diusung? Ini bukan soal nilai. Ini soal “muatan”.

Ada calon yang dibawa masuk lewat pintu belakang, tapi disambut di depan layar seperti pahlawan kesiangan pastinya Mereka tahu.

Bahkan, beberapa diduga kuat sedang memainkan skenario dorong-mendorong calon titipan. Bukan rahasia lagi kalau sebagian dari mereka punya jagoan yang sedang “dipoles” lewat panggung seleksi.

Lihat saja polanya: Yang didukung, disuguhi pertanyaan ringan, diberi ruang bicara, dibingkai rapi.

Yang bukan jagoan? Diseret dengan pertanyaan absurd. Dikasih jebakan. Dijegal dengan teknis. Ditekan lewat permainan persepsi.

Fit and proper test ini bukan proses seleksi. Ini proses penyaringan musuh dan pengangkatan kawan.

Dan semua itu disiarkan live supaya terlihat “transparan”. Padahal publik cuma ditunjukkan bungkusnya. Dagingnya? Sudah dikunyah jauh sebelum tes dimulai.

Jangan salah. Penilaian sebenarnya tidak terjadi di depan kamera. Tapi di ruang gelap di mana “kebetulan” bisa dikondisikan, dan “kompeten” bisa dikalahkan oleh “loyal.”

Ini seleksi formalitas. Panggung untuk melegalkan apa yang sudah disepakati. Putusan di DPRD Komisi 1 bukan soal nilai, tapi soal siapa bawa siapa.

Siapa yang sudah “disiapkan”. Siapa yang akan menjadi “perpanjangan tangan”.

Anehnya, mereka bicara panjang lebar soal integritas, padahal rekam jejak sendiri keropos.

Lihat ke belakang: bagaimana mereka bisa duduk di kursi Komisi 1 DPRD? Lewat jalan bersih? Atau lewat traktiran suara, dan janji politik.

Jangan ceramah soal moral kalau diri sendiri masih bagian dari pasar gelap politik lokal. Jangan pamer integritas kalau calon yang Anda dorong adalah hasil kompromi.

Pertanyaan “recusal” hanyalah simbol dari betapa teknis bisa dipakai untuk menjatuhkan. Recusal itu soal sikap, bukan hafalan.

Tapi ketika niatnya menjegal, definisi pun bisa disulap jadi perangkap. Yang penting: lawan terlihat bodoh. Dan jagoan sendiri terlihat superior.

KI Sumenep ini bukan sedang seleksi kapasitas. Tapi sedang menyiapkan alat politik baru. Yang bisa dikendalikan.

Yang tahu diri. Yang siap patuh. Siapa yang kira-kira cocok?

Lihat saja siapa yang disayang. Siapa yang dilemahkan. Jangan heran kalau nanti hasilnya tidak sesuai prediksi. Karena yang dilawan bukan ketidakpastian, tapi kemapanan sistem yang sudah usang.

Siaran langsung bukan bukti keterbukaan. Itu cuma musik latar. Sementara keputusan sejatinya dimainkan di balik pintu tertutup di meja yang sudah berisi muatan dan kepentingan.

Kalau Anda kira ini proses seleksi yang fair, Maaf. Anda sedang menonton drama pengangkatan pejabat titipan.
Selamat datang di KI Sumenep Yang Penuh Drama.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here