Memaknai Resolusi Jihad dan Arti Hari Santri

0
45

Oleh: KH Imam Hasan Thaha

JNN.co.id – Pengasuh Pondok Pesantren Akmalul Muhsinin Banyuwangi dan Ketua Dewan Pembina Aliansi Jiwa Nusantara (Ajinu)

*Banyuwangi, JNN.co.id -*
SETIAP tanggal 22 Oktober kita memperingati Hari Santri Nasional (HSN). Itu setelah Presiden Republik indonesia, Ir. Joko Widodo, menerbitkan Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015 tentang Hari Santri.

Itu artinya pada tanggal 22 Oktober 2026 kita akan merayakan HSN ke-11.

Akar peringatan HSN adalah Resolusi Jihad yang dicetuskan oleh Hadzartus Syekh KH Hasyim Asy’arie. Jangan lupa, KH Hasyim Asy’ari adalah juga pendiri ormas Islam terbesar, Nahdlatul Ulama (NU).

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), yang dimaksud dengan Jihad adalah usaha dengan segala daya upaya untuk mencapai kebaikan atau usaha sungguh-sungguh membela agama Islam dengan mengorbankan harta benda, jiwa dan raga.

Resolusi Jihad dicetuskan KH Hasyim Asy’ari pada tanggal 22 Oktober 1945.

Seperti kita bersama ketahui, kala itu Kota Surabaya mendapatkan ancaman dari tentara asing. Tepatnya tentara Belanda yang membonceng tentara Inggris.

Belanda ingin kembali menguasai wilayah Indonesia setelah Bung Karno dan Bung Hatta memproklamirkan Kemerdekaan Bangsa Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945.

Tentara Sekutu mengancam penduduk Jawa Timur dan rakyat Surabaya agar menyerah. Jika tidak mau menyerah, maka Tentara Sekutu akan membumihanguskan Kota Surabaya.

Mendapat ancaman seperti itu ternyata bangsa Indonesia memilih untuk lebih baik mati daripada menyerah kepada penjajah.

Sebagai pemimpin keagamaan, KH Hasyim Asy’ari melontarkan seruan untuk Resolusi Jihad.

Bangsa Indonesia baru dua bulan, Agustus – September 1945, merdeka. Lalu beredar kabar tentara Belanda (NICA, Netherlands Indies Civil Administration) ingin kembali menjajah Indonesia.

NICA artinya Pemerintahan Sipil Hindia Belanda.

Tentara Belanda coba kembali ke Indonesia atas nama Allied Forces Netherlands East Indies (AFNEI) atau Pasukan Sekutu untuk mendukung Belanda.

AFNEI beranggotakan tentara Inggris dan Australia dan sebagian kecil tentara Belanda. Malah pasukan AFNEI yang mendarat di Surabaya diperkuat dengan Ghurka, tentara bayaran asal India.

AFNEI mendarat di Jakarta 29 September 1945 kemudian melanjutkan perjalanan menuju Surabaya 25 Oktober 1945 dengan membawa senjata lengkap. Ikut serta tentara NICA. Pasukan ini dipimpin Jenderal Philip Christison.

Rakyat Indonesia menyimpulkan, Belanda balik lagi untuk menjajah.

Apalagi tentara Belanda pimpinan Ploegman menggunakan Hotel Yamato di Jalan Tunjungan Surabaya sebagai markas NICA. Ploegman juga memerintahkan pengibaran bendera Belanda Merah-Putih-Biru di atas hotel terkenal di zaman Jepang yang kini berubah nama menjadi Hotel Majapahit.

Terjadilah peristiwa heroik di Hotel Yamato, saat Arek-arek Suroboyo dengan bahu-membahu menuju atas hotel untuk menurunkan bendera Belanda. Berhasil. Bagian biru bendera Belanda dirobek dan yang tersisa adalah bendera warna Merah Putih.
Dalam peristiwa ini Ploegman tewas di tangan pemuda bernama Koesno Wibowo.

Komandan perang AFNEI di Surabaya, Brigadir Jenderal Mallaby juga tewas di dekat kawasan Jembatan Merah.

Tentara AFNEI dan NICA tentu saja marah dengan tewasnya Ploegman dan Mallaby. Surabaya digempur dari darat, laut dan udara.

Tentu saja ini memancing kemarahan dan sekaligus membangkitkan semangat bangsa Indonesia untuk bersama-sama melawan tentara penjajah. Apalagi sudah ada Fatwa Resolusi Jihad KH Hasyim Asy’ari.

Isi Resolusi Jihad adalah : Berperang melawan penjajah yang mau menjajah kembali itu hukumnya Fardhu Ain (wajib bagi setiap muslim) yang mati syahid.

Fatwa KH Hasyim Asy’ari itu membakar semangat ribuan Santri dan Kyai se Pulau Jawa dan Madura untuk berangkat ke Surabaya.

Rakyat Surabaya sendiri tidak tinggal diam. Mereka menyatakan kesiapannya menjadi laskar pejuang kemerdekaan. Semangat rakyat Surabaya antara lain dikobarkan oleh penyiar radio, Bung Tomo.

Jadi, kalau tidak ada Resolusi Jihad 22 Oktober 1945 mungkin tidak akan ada tanggal 10 November 1945 yang kemudian ditetapkan sebagai Hari Pahlawan.

Itulah kenapa sejak 2015 setiap tanggal 22 Oktober diadakan Apel Santri di seluruh indonesia, terutama di lingkungan pesantren.

Karena Hari Santri dimaksudkan untuk mengakui peran Santri dan Pesantren yang tidak cuma mengaji di pondok, tapi ikut mempertahankan kemerdekaan bangsa Indonesia.

HSN tentu saja harus dimaknai sebagai keinginan untuk mengisi kemerdekaan demi kemajuan bangsa dan negara Indonesia.

Santri di era kini sudah tidak perlu memanggul senjata untuk melawan penjajah, melainkan melakukan segala sesuatu yang tidak hanya bermanfaat bagi dirinya, tetapi sekaligus bermanfaat untuk kemajuan bangsa Indonesia.

Bahkan perjuangan santri di era milenial juga tidak mudah. Mereka dihadapkan pada konflik yang lebih kompleks. Perang asimetris berbasis teknologi canggih.

Ada perang pemikiran, perang ideologi, perang aqidah, perang peradaban, perang ekonomi.
Ada pula perang siber, yaitu bentuk serangan digital dengan menargetkan infrastruktur penting suatu negara tanpa harus mengirim tentara secara fisik.

Belum lagi dengan perang informasi. Yakni dengan cara menyebarkan opini menyesatkan dengan tujuan merusak bangsa secara psikologis.

Dalam hal ini, penulis ingin semua santri khususnya dan generasi penerus bangsa pada umumnya agar senantiasa mengingat dan mengamalkan QS At Taubah:20 :
“Orang-orang yang beriman dan berhijrah dan berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan diri mereka adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah, dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan.”

Selamat merayakan Hari Santri Nasional 2026. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here