Mengintip Ritual Komunitas Sonamgkara Setiap Malam Jumat Kliwon

0
94

Banyuwangi, JNN.co.id – Bumi Nusantara menyimpan begitu banyak macam tradisi dan budaya. Jadi, tak usah heran jika di setiap daerah kita menjumpai ada ratusan dan bahkan ribuan cara masyarakat melestarikan budaya peninggalan nenek moyang bangsa kita.

Di Banyuwangi, tepatnya di Dusun Derwono, Desa Balak, Kecamatan Songgon ada semacam sanggar atau padepokan yang menjadi markas Komunitas Sonamgkara.

Saat jurnalis media ini mendatangi Padepokan Sonamgkara, aroma kemenyan dan dupa sudah terendus puluhan meter sebelum pintu masuk.

“Tempat ini saya namakan nDalem Jayadiningratan. Tempat berkumpul para pemuda dan pemudi pegiat budaya dan sejarah yang juga tertarik mendalami kegiatan spritual,” tutur Wong Agung Mukti Jayadiningrat yang akrab disapa Mas Agung.

Pria berusia 46 tahun kelahiran Kelurahan Lateng Kecamatan Kota Banyuwangi ini ingin mengabdikan dirinya untuk melestarikan warisan budaya leluhur bangsa Blambangan.

Pada awalnya Mas Agung menjalankan aktivitas ritual sendirian. Ternyata beberapa pemuda dan pemudi diam-diam memperhatikan setiap laku yang dijalankan Mas Agung.

Begitu jumlah generasi muda yang tertarik untuk mengikuti jejaknya berjumlah 17 orang, dia dirikan Komunitas Sonamgkara.

“Karena kebanyakan dari mereka adalah pegiat budaya dan peminat sejarah, tidak terlalu berat buat saya menjelaskan apa-apa yang saya lakukan selama ini. Yakni upaya atau ikhtiar melestarikan budaya peninggalan Kerajaan Blambangan,” jelas lelaki berperawakan gempal itu.

Berdasarkan kesepakatan, komunitas ini mengadakan pertemuan dan ritual bareng setiap malam Jumat Kliwon.
Tempat pertemuan digilir di rumah anggota komunitas dan sesekali dipilih sutus-situs bersejarah atau petilasan. Termasuk Alas Purwo di Banyuwangi Selatan.

Perihal nama Sonamgkara, Mas Agung menjelaskan, itu sebutan untuk pasukan elit Kerajaan Blambangan di era kepemimpinan Pangeran Danuningat (1736-1763).

Lambang yang digunakan kala itu adalah anjing hutan yang disebut orang Banyuwangi dengan istilah Baong.

Terbukti, banyak petilasan Panji Baong atau Panji Sonamgkara ditemukan mulai dari hutan Pasewaran, Baluran dan bahkan sampai Pantai Bentar Kabupaten Probolinggo.

Panji Sonamgkara melambangkan ketaatan dan kesetiaan pada pemimpin serta kekompakan dan ketangkasan tim dalam menaklukkan musuh.

“Nilai dan filosofi Panji Sonamgkara itulah yang coba kita tanamkan kepada generasi muda. Supaya generasi penerus bangsa kita punya karakter. Selain beriman dan bertakwa, mereka juga harus berbudaya budi luhur seperti generasi pendahulunya,” urai Mas Agung.

Ia tambahkan, tanpa pengetahuan dan bimbingan, generasi muda bisa terseret ke kegiatan ritual yang berujung pada klenik.
“Jadi harus dibedakan antara ritual dan spritual. Kalau sekadar ritual tanpa tahu maknanya, itu berbahaya,” jelas Mas Agung Mukti Jayadiningrat. (Aguk Wahyu Nuryadi)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here