Semoga Dokter Erli Tidak Mundur

0
46

Sumenep, JNN.co.id – Seperti klimaks. Hari-hari berlalu tanpa penyangga. Seakan tak kuat menahan beban. Spontan, curhat di medsos.

Selasa pagi. Tiba-tiba ada status WA nongol di HP. Dokter Erliyati menulis isi hatinya: “Pekerjaan banyak… ingat Pak Arman yang cerdas dan gercep.”

Begitu isi curhat dr. Erliyati, M.Kes. Baru seminggu Bu Dokter menjabat Plt Direktur Utama RSUDMA. Dokter Erli sudah curhat. Seperti kehilangan orang yang selama ini membuat beban dirinya terasa ringan.

Seminggu lalu, Arman Saputra, Kabid Penunjang, Pendidikan, dan Penelitian, harus berpindah posisi. Posisinya diisi pejabat baru dari luar. Selain Arman, juga ada Mohammad Feriyadi—penyangga IT RSUD.

Dua tahun terakhir, sejak RSUDMA resmi naik kelas B, transformasi digital digenjot. Ribuan berkas dikonversi ke digital. RME dikebut. Semua dilakukan mandiri oleh Tim IT RSUDMA, tanpa vendor.

Arman Saputra berposisi memutar. Sesuai perintah Dokter Erli. Meski bukan tugas pokok dan fungsinya, ia selalu ada di samping Bu Dokter Erli. Bahkan terjun bebas mewakili tugas lainnya.

Saya cukup paham suara getir Dokter Erli. Ia harus bertanggung jawab di semua lini. Memaksimalkan pelayanan rumah sakit milik Pemkab. Di sisi lain, harus babak belur terlibat menciptakan stabilitas Sumenep.

Dua tanggung jawab itu harus berjalan mulus. Sesuai cita-cita Kepala Daerah: Bismillah Melayani. Dan Sumenep Aman, Nyaman, dan Rukun Makmur Sentosa.

Di bidang pelayanan, Dokter Erli harus mampu menjaga layanan prima. Tentu layanan itu tidak bisa sebatas slogan. Harus nyata. Minimal ada dokter spesialis yang menjadi pembeda. Maka bisa dilihat, beberapa dokter spesialis dari luar Sumenep berhasil didatangkan ke RSUDMA.

Itu salah satu kelebihan Dokter Erli. Selain dokter senior, juga alumni Unair. Yang tentu memiliki jaringan dokter-dokter spesialis.

Menghadapi dokter spesialis tidak semudah diucapkan. Ibaratnya, dokter spesialis itu karyawan dengan gaji Rp300 juta sebulan.

Bahkan bisa lebih dari angka itu. Itu sebabnya, mengedepankan uang semata masih perlu seni tersendiri. Setidaknya memiliki jaringan dengan dokter-dokter spesialis.

Sehari usai mutasi ASN di Pendopo, Sabtu pagi terdengar gonjang-ganjing di antara dokter-dokter untuk “hijrah”. Karena mereka datang ke Sumenep karena melihat sejawat alumni Unair. Bukan karena iming-iming bayaran.

Senin, hari pertama menjabat Plt, Dokter Erli terlihat masih melayani banyak tamu. Sehari sebelumnya ada banyak WA. Entah apa isinya. Terdengar dari percakapan: “Maaf, saya sudah tidak lagi menjabat Direktur RSUD.”

Sabtu, sehari usai mutasi, saya kebetulan ada urusan belum selesai di RSUDMA. Saya berada tidak jauh dari meja yang biasa ditempati teman-teman media. Dokter Erli terus membalas WA yang masuk. Jawaban yang sama terus terucap.

Saya penasaran. Tanya ke salah satu ajudan Dokter Erli. Yang berpostur tinggi dan gemuk. “Sampai 20 orang setiap hari,” jawabnya.

Seminggu berlalu. Ia menjabat Plt sekaligus Wakil Direktur. Sementara kaki-kaki penyangga yang selama ini terasa ikut meringankan bebannya direlokasi.

Semoga saja Dokter Erli betah dan tidak mengundurkan diri. Karena di sana, sudah ada rumah sakit swasta yang meminangnya.(Tim)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here