KH Abdul Halim Mahfudz Wafat Pesantren Tebuireng Berduka

0
326

Surabaya, JNN.co.id – Pondok Pesantren Tebuireng Jombang berduka. KH Abdul Halim Mahfudz atau yang akrab dipanggil Gus Iim wafat Rabu (08/04/2026) pukul 10.57 WIB di Rumah Sakit Sudono Madiun.

Kabar duka itu dengan cepat menyebar, khususnya di kalangan Nahdliyin.

Gus Iim yang lahir 17 Juli 1954 adalah putra pasangan KH Mahfudz Anwar dan Nyai Abidah. Dari garis keturunan ibunya, Gus Iim masih cicit pendiri Nahdlatul Ulama, KH Hasyim Asy’ari.

Nyai Abidah adalah putri KH Ma’shum Ali dan Nyai Choiriyah, yang tak lain adalah putri KH Hasyim Asy’ari.

Sejak 2017 Gus Iim mendapat amanah untuk memimpin Yayasan Pendidikan dan Pesantren Rohman serta menjadi pengasuh di Ponpes Seblak. Sedangkan adiknya, KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikim) menjadi pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng Jombang.

Sepekan lalu kondisi kesehatan Gus Iim memburuk. Keluarga kemudian memutuskan untuk membawa kakak kandung KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin) itu ke RS Sudono Madiun untuk mendapatkan perawatan intensif.

Semasa hidupnya, Gus Iim dikenal punya hubungan luas dengan berbagai kalangan. Ia juga dikenal sebagai orang pesantren yang punya wawasan internasional.

Tahun 1991, Gus Iim bergabung dengan Harian Pagi “Surya” Surabaya. Bersama almarhum wartawan senior Anshari Thayeb, Gus Iim mengasuh rubrik Opini Harian Pagi “Surya”.

Tahun 1993, Gus Iim pernah ditugaskan mendampingi Redaktur Desk Luar Negeri Harian Pagi ” Surya” Widyanto Juniardhie dan Sunarko saat bertemu Konsulat Jenderal Amerika Serikat di Surabaya.

Selepas dari Harian “Surya” Gus Iim bekerja di lembaga internasional, seperti The Asia Foundation, Burson Marsteller, Coca Cola Indonesia dan Standard Chartered Bank. Sampai kemudian ia dipanggil untuk mengurus pondok pesantren yang didirikan orangtuanya.

Gus Iim juga dikenal sebagai penggerak pendidikan halalpreuneurship. Sebuah konsep yang hendak menjembatani nilai-nilai pesantren dengan semangat kewirausahaan modern.

Suatu kali dia mengasuh kelas halalpreuneurship yang berisi 40 mahasiswa dari berbagai latar belakang. Yang menarik, dari 40 mahasiswa-i itu hanya 12 orang yang beragama Islam.

“Dari keberagaman itu saya melihat sesuatu yang berharga. Yakni tumbuhnya tolenrasi secara alami. Tidak ada sekat keyakinan, yang ada adalah rasa saling menghargai,” begitu Gus Iim pernah menuturkan pengalamannya.(yw)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here