Pusat Paguyuban MASTRIP Minta Anggota Atasi Wabah Virus Corona

0

Jakarta, JNN.co.id – Pengurus Pusat Paguyuban MASTRIP Jawa Timur minta Pengurus Daerah Paguyuban MASTRIP di seluruh Indonesia mengikuti anjuran pemerintah terkait upaya mengendalikan penyebaran virus Corona.

Destry Damayanti

Melalui surat edaran tertanggal 25 Maret 2020, yang ditandatangani Ketua Umum Destry Damayanti dan Sekretaris Umum, R Hudi Purnomo, Pengurus Pusat Paguyuban MASTRIP Jawa Timur minta semua anggota untuk sementara sedapat mungkin tinggal di rumah dan menghindari kerumunan.

Sebab imbauan dan anjuran pemerintah itu semata-mata untuk mencegah agar virus COVID 19 tidak makin menyebar ke mana-mana.

Koordinator Paguyuban Putra-Putri MASTRIP Kota Surabaya, Heru Gunarso Yuwono mengatakan, sesuai edaran pengurus pusat, ia minta anggota Paguyuban MASTRIP juga membantu menciptakan ketertiban sekaligus ketenangan di tengah masyarakat.

Heru Gunarso Yuwono

“Karena banyak beredar berita bohong alias hoax. Ini menyedihkan. Karena dampaknya adalah kepanikan di tengah masyarakat,” ujar pria paro baya yang akrab disapa Gun ini.

Menurutnya, ada baiknya jika di tengah musibah merebaknya virus Corona semua pihak mengikuti anjuran pemerintah, sembari berupaya menjaga anggota keluarga tetap sehat.

“Kami juga sudah mengadakan acara doa bersama. Memohon kepada Tuhan agar bangsa Indonesia segera terlepas dari cobaan teramat berat ini,” ujar Gunarso.
Apa yang disampaikan Heru Gunarso Yuwono ini senada dengan pesan Ketua Umum Pengurus Pusat Paguyuban MASTRIP, Destry Damayanti yang sejak 7 Agustus 2019 dipercaya menduduki jabatan sebagai Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia.

*Arti MASTRIP*

Heru Gunarso Yuwono yang juga pembina Paguyuban Putra-Putri MASTRIP Jawa Timur menjelaskan,
TRIP adalah akronim Tentara Republik Indonesia Pelajar. Saat pecah perang 10 November 1945 di Surabaya pelajar setingkat SMP dan SMA yang sudah pernah dilatih kemiliteran oleh tentara Jepang pilih bergabung dengan arek-arek Suroboyo untuk mengusir tentara Sekutu yang ingin menguasai kembali Indonesia.
Tentara pelajar pejuang itu kemudian tergabung dalam Brigade XVII Detasemen I TRIP/Jawa Timur.

Di seluruh dunia, hanya ada dua negara yang kaum pelajarnya ikut terlibat dalam perang kemerdekaan. Yakni Indonesia dan Aljazair.

Kini anggota TRIP Jawa Timur yang jumlahnya bisa dihitung dengan jari ini disebut sebagai Ex TNI Brigade XVII/TRIP Jawa Timur.

Karena masih pelajar, di tengah berkecamuknya perang mereka tetap belajar. Itu sebabnya logo MASTRIP terdiri atas topi baja, pena dan sangkur.

Komandan TRIP adalah Mas Isman, yang kala itu berusia 21 tahun. Pria kelahiran Bondowoso 24 Januari 1924 kemudian melanjutkan karirnya di militer dengan pangkat terakhir Mayor Jenderal TNI AD.

Dalam berperang melawan penjajah, anggota TRIP lebih sering berbaur dengan penduduk. Itu juga bagian dari taktik perang. Jika ada patroli, penduduk yang melindungi anggota TRIP. Tak jarang, kebutuhan makannya pun disediakan oleh penduduk.

Sebutan MAS TRIP juga berasal dari penduduk Surabaya khususnya dan kota-kota lain di Jawa Timur yang pernah menjadi tempat persembunyiannya. Seperti Madiun, Blitar, Kediri, Jombang, Malang, Bojonegoro, Tuban, Jember, Mojokerto dan lain-lain.

Penduduk memanggil tentara pelajar dengan sebutan “Bapak” kurang pas, karena nyatanya mereka adalah para pelajar. Tapi dipanggil “Adik” juga terasa kikuk, karena meski masih pelajar mereka nyatanya tentara profesional. Akhirnya anggota TRIP itu dipanggil “MAS” untuk yang laki-laki, sedang yang perempuan dipanggil Mbakyu MAS. Dari situlah muncul istilah MASTRIP.

Untuk mengenang jasa para tentara pelajar itu kini di berbagai kota nama MASTRIP diabadikan menjadi nama jalan.(Yami Wahyono)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here