Epidemi Coronavirus dan Ancaman Psikologi Publik

0

Oleh: Frederikus Magung

Mahasiswa STFK Ledalero

Ledalero NTT, JNN.co.id – Beberapa bulan belakangan ini, dunia digencarkan sekaligus digoncangkan oleh wabah virus baru serentak mengancam mematikan public, virus korona atau coronavirus (covid-19).

Sekedar menelisik sejarahnya, coronavirus pertama kali diidentifikasi sebagai penyebab flu biasa pada tahun 1960. Hingga pada tahun 2012, virus ini belum dianggap fatal.

Tetapi pacca adanya Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS-Cov) di Cina, para pakar mulai berfokus pada penyebab dan menemukan hasil apabila wabah ini diakibatkan oleh bentuk baru.

Pada tahun 2012, terjadi pula wabah yang mirip yakni Middle East Respiratory Syndrom (MERS-Cov) di Timur Tengah. Dari kedua virus itulah diketahui bahwa korona bukan virus yang stabil serta mampu beradaptasi menjadi lebih ganas, bahkan virus yang sangat mematikan.

Menurut Prof. Soewarno yang juga Wakil Dekan III Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Airlangga berpendapat bahwa virus korona jenis baru yang sekarang berkembang, bukan merupakan sebuah hal baru melainkan hasil dari mutasi. Virus ini serupa dengan corona yang menjadi penyebab SARS-Cov dan MERS-Cov (Tribun, 06 Maret 2020)

Selanjutnya sejumlah pakar berpendapat bahwa wabah ini disebabkan karena virus corona jenis baru.

Menelisik akar sejarah dan arah perkembangan coronavirus ini tentu menjadi bahan pertimbangan sekaligus pertanyaan akan dampak destruktif (psikologis) bagi public.

Hemat penulis, untuk menjawab bagaimana dampak coronavirus, terlebih dahulu kita melihat beberapa tragedy nyata yang sudah, sedang dan bahkan (mungkin) akan terus terjadi.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan hampir Sembilan kali lebih banyak kasus di luar Cina daripada dalam negeri (negara cina itu sendiri), dengan laporan adanya orang-orang yang terjangkit. Diantaranya New York, Berlin, Moskow, Amerika serikat, dan beberapa negara lainnya termasuk negara Indonesia.

Coronavirus telah menewaskan ribuan orang dan menyebar di seluruh dunia. Sebagaimana disinyalir oleh Aljazeera, ada 30 lebih negara yang terjangkit virus yang mematikan ini. Beberapa di antaranya Afganistan mengkonfirmasi kasus pertama corona virus pada 22 februari, Australia mengkonfirmasi 22 kasus virus pada 23 ferbuari, Kamboja mengkonfirmasi kasus pertama coronavirus pada 27 januari, Jerman mendaftarkan 16 kasus yang dikonfirmasi merupakan coronavirus pada 22 februari, dan beberapa negara lainya terjangkitnya coronavirus mematikan ini.

De facto, negara Indonesia juga tidak luput dari gangguan virus mematikan ini. Coronavirus menjadi wabah yang tidak mengenal batas-batas teritorial.

Ditinjau dari beberapa fakta di atas, saya melihat satu dampak destruktif dari perkembangan coronavirus yaitu gangguan psikologi massa. Ramainya pemberitaan terkait coronavirus mempengaruhi psikologi massa maupun psikologi pasien adalah salah satu tanggung jawab pemerintah dan instansi terkait dalam menangani wabah mematikan ini.

Pemerintah mesti menangangi secara intensif dan produktif agar coronavirus mematikan ini tidak menyebar kemana-mana dan dapat menjadi awasan bagi public. Dan sebagai salah satu cara penanganan medis adalah ‘mengisolasi’ mereka yang terjangkit coronavirus.

Suatu keniscayaan ketika mereka terus diisolasi pasti akan depresif yang mengakibatkan gangguan perkembangan psikologi mereka sebagai dampak lanjutannya.

Psikolog Klinis Dewasa, Yulius Steven membenarkan hal ini. Dia menjelaskan bahwa bila seseorang disilolasi dalam waktu bebarapa hari bisa saja akan muncul gejala depresi. Namun bila isolasi terjadi tiga bulan ke atas, risiko orang terkena depresi semakin besar (Medcom.id, 28 Januari 2020).

Berkembangnya coronavirus ini juga dapat menghantui rasa cemas public, kepanikan massa, dan hilangnya semangat beraktivitas kantor, rumah atapun rutinitas keseharian lainnya. Ada gangguan cemas dan depresi yang terselubung, sehingga terjadi seperti semacam gangguan penyesuaian psikologis akan dielaborasi untuk dilakukan pendampingan khusus secara psikologis pula.

Psikologi dalam pengertiannya adalah disiplin ilmu yang mempelajari lebih dalam mengenai mental, pikiran, dan prilaku manusia. Disiplin ilmu ini meneliti pemikiran manusia dan alasan dibalik prilaku dan tindakan tersebut.

Dari sisi kesehatan pun, masalah psikologi atau gangguan terkait kepribadian biasa muncul akibat kondisi penyakit. Ini juga berlaku sebaliknya, beberapa prilaku manusia juga biasa mempengaruhi kesehatan.

Maka pada aras, ini, pemerintah perlu mengafirmasi beberapa langkah praktis hadapi wabah coronavirus. Pertama, perlu meningkatkan responsifitas darurat kepada pasien, serta dengan sergap memberikan signal kepada public, ataupun komunitas melalui komunikasi jejaring sebagai langkah untuk mengontrol, sekaligus memberi awasan.

Kedua, perlu ada penanganan secara medis psikologi klinis bagi mereka yang terjangkit coronavirus secara masif. Tugas utamanya adalah menggunakan tes yang merupakan bagian integral suatu pemeriksaan klinis yang biasanya dilakukan di rumah sakit.

Psikologi Klinis (Phares: 1992) menunjuk pada bidang yang membahas kajian, diagnosis, dan penyembuhan (treatment) masalah-masalah psikologis, gangguan (disorders) atau tingkah laku abnormal.

Hal ini sangat penting sebagai langkah antisipatif konstruktif bagi masyarakat public agar terhindar dari rasa cemas yang berlebihan, kepanikan menggiurkan massa dan gangguan psikologi masyarakat.

Sekian!(***)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here